Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching menegaskan komitmennya untuk memastikan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sarawak tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak. Saat ini terdapat 2.925 anak Indonesia yang menjalani pendidikan di Community Learning Centre (CLC) yang berada di berbagai perkebunan kelapa sawit di wilayah Sarawak, Malaysia.

Konsul Jenderal RI Kuching, Abdullah Zulkifli, menjelaskan bahwa ribuan anak tersebut tersebar di 62 CLC aktif, meskipun jumlah keseluruhan CLC yang terdaftar mencapai lebih dari 70 pusat. Ia menilai keberadaan CLC sangat penting untuk memastikan anak-anak PMI tetap mendapatkan pendidikan meski tinggal di kawasan perkebunan yang lokasinya saling berjauhan.

Untuk memenuhi kebutuhan guru, CLC dibantu oleh guru bina dari Kementerian Pendidikan Indonesia serta guru pamong atau guru bantu yang direkrut oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Namun, ketimpangan antara jumlah guru dan murid menjadi tantangan tersendiri karena satuan pengajar harus melayani jenjang TK hingga kelas 6 SD dengan jarak antar-CLC yang cukup jauh.

Abdullah menambahkan bahwa pihaknya terus mendorong agar anak-anak Indonesia di Sarawak tetap bisa menikmati hak pendidikan sebagaimana anak-anak di tanah air. Tantangan lain yang perlu segera diatasi adalah terkait status para guru CLC yang masih memerlukan kejelasan.

Ia menyampaikan bahwa KJRI Kuching telah berkoordinasi dengan berbagai otoritas setempat, termasuk Kementerian Pembangunan Kanak-kanak dan State Secretary Sarawak, guna memperkuat dukungan terhadap penyelenggaraan pendidikan anak PMI di wilayah tersebut.

Sumber : Agus Alfian 
Publisher : Meirina Elisabeth Br Sebayang